WASPADAI RISIKO DIABETES PADA GEN Z: DAMPAK TREN FOMO KONSUMSI MINUMAN VIRAL

Di tengah gempuran fenomena makanan dan minuman viral di media sosial, memunculkan  FOMO (Fear of Missing Out), terutama pada kalangan Gen Z. Meskipun terlihat menyenangkan untuk mengikuti tren terbaru, nyatanya ada risiko kesehatan serius yang sering diabaikan, salah satunya peningkatan risiko diabetes.

Apa itu diabetes dan bagaimana mempengaruhi Gen Z?

Diabetes merupakan penyakit metabolik kronis dan dapat menjangkit siapa saja tanpa mengenal batasan usia. Penyakit ini ditandai dengan adanya gangguan produksi insulin pada pankreas. Insulin adalah hormon yang penting untuk mengatur kadar gula dalam darah. Ketika produksi insulin terganggu, gula darah tidak dapat diproses dengan efektif. Hal ini mengakibatkan penumpukan gula dalam darah dan kondisi kadar gula darah yang tinggi. Akibatnya, penderitanya dapat mengalami berbagai masalah kesehatan yang serius. 

Dalam beberapa tahun terakhir, penderita diabetes pada anak muda, termasuk Gen Z telah meningkat secara signifikan. Berdasarkan data International Diabetes Federation (IDF), jumlah penderita diabetes di dunia mencapai 537 juta pada tahun 2021. Di Indonesia, terdapat 19,5 juta penderita diabetes, menjadikannya sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita diabetes terbanyak di dunia. Bahkan, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) melaporkan bahwa persentase kejadian diabetes pada penduduk usia di atas 15 tahun meningkat dari 10,9% pada tahun 2018 menjadi 11,7% pada tahun 2023. Peningkatan ini menunjukkan perlunya perhatian lebih terhadap gaya hidup dan pola makan, khususnya di kalangan generasi muda.

Jenis-Jenis Diabetes:

Diabetes yang terjadi secara kronis dapat dikategorikan dalam beberapa jenis berdasarkan penyebabnya, yaitu:

  1. Diabetes Tipe 1 merupakan kondisi saat tubuh seseorang mengalami kerusakan sel pankreas sehingga menghambat produksi insulin. Kondisi ini dapat menyebabkan tubuh penderitanya benar-benar berhenti memproduksi insulin. Sehingga, kadar gula darah pada penderitanya akan meningkat secara signifikan.
  2. Diabetes Tipe 2 adalah jenis diabetes yang paling umum terjadi. Pada kondisi ini, pankreas pada penderitanya tidak mampu memproduksi insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh. Hal ini menghambat proses metabolisme yang menyebabkan penumpukan gula darah dan menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi.

Mengapa Gen Z Rentan Mengalami Diabetes?

  1. Tren Nongkrong dan Kuliner

Minuman dan makanan berpemanis yang sering dipromosikan di media sosial, serta keinginan untuk tidak ketinggalan tren berdampak pada peningkatan konsumsi makanan dan minuman tinggi kalori, lemak jenuh, dan gula. Contoh tren nongkrong di cafe atau coffee shop untuk membeli minuman viral seperti kopi kekinian, boba milk tea, dan milkshake dengan topping manis yang terlihat estetik. Nyatanya minuman tersebut seringkali mengandung gula tinggi yang dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Kebiasaan ini dapat menyebabkan peningkatan berat badan, yang merupakan faktor risiko signifikan untuk diabetes. Kondisi ini dapat berpengaruh pada peningkatan berat badan yang merupakan faktor risiko signifikan penyebab diabetes. Semakin banyak jaringan lemak yang dimiliki seseorang, maka semakin resisten sel tubuhnya terhadap insulin. Tetapi, seseorang tidak harus mengalami kelebihan berat badan untuk terjadinya diabetes tipe 2.

  1. Kurangnya aktivitas Fisik

Aktivitas fisik penting untuk mengontrol penggunaan glukosa sebagai energi yang sekaligus ini dapat membantu tubuh meningkatkan sensitivitas sel terhadap insulin. Ketika seseorang kurang aktif beraktivitas, tubuh tidak dapat mengolah glukosa dengan efisien. Ini dapat menyebabkan penumpukan gula dalam darah yang akhirnya meningkatkan risiko diabetes. Gen Z yang suka mageran atau malas gerak karena menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar gadget dapat memperbesar risiko penyakit ini.

  1. Pola tidur Tidak teratur

Gangguan tidur atau kebiasaan begadang dapat mempengaruhi cara tubuh mengatur gula darah dan menurunkan efektivitas insulin. Tidur yang tidak konsisten dapat menyebabkan resistensi insulin dan meningkatkan risiko diabetes tipe 2. Banyak Gen Z menghadapi tantangan ini karena tuntutan akademik, pekerjaan, atau aktivitas sosial yang padat.

Adapun beberapa tanda dan gejala umum diabetes yang perlu diwaspadai, yaitu:

  1. Rasa haus yang meningkat dan peningkatan frekuensi buang air kecil
  2. Rasa lapar yang berlebihan
  3. Mudah merasa kelelahan
  4. Penurunan kualitas penglihatan
  5. Adanya luka yang sulit sembuh
  6. Penurunan berat badan yang signifikan

Jika tidak segera diatasi, diabetes yang tidak terkontrol dapat memicu masalah serius, seperti penyakit jantung, stroke, gagal ginjal, kebutaan, dan berbagai penyakit lainnya. Sehingga perlu dilakukan upaya pencegahan untuk menekan kejadian diabetes pada Gen Z, antara lain:

  1. Melakukan pengecekan tingkat gula darah secara teratur di pelayanan kesehatan
  2. Meningkatkan kebiasaan konsumsi makanan sehat, seperti lebih banyak sayuran dan buah, serta mengurangi konsumsi makanan yang mengandung lemak, gula, dan makanan asin. Pastikan juga untuk memenuhi kebutuhan air putih untuk menyeimbangkan cairan tubuh.
  3. Rutin melakukan aktivitas fisik dengan berolahraga minimal 30 menit setiap hari untuk meningkatkan aktivitas sel tubuh.
  4. Istirahat yang cukup dan berkualitas sekitar 7-8 jam per hari.
  5. Hindari atau bahkan berhenti merokok serta minuman beralkohol
  6. Upayakan mengelola stres dengan melakukan kegiatan positif, seperti menjalankan hobi agar lebih produktif.

Selain itu, penting halnya adanya dukungan dan komitmen dari pemerintah dalam mengatasi masalah ini. Misalnya dengan membuat regulasi yang tegas untuk membatasi produk-produk yang memiliki kandungan gula tinggi. Beberapa negara lain, salah satunya Singapura telah menerapkan kebijakan pelabelan makanan yang memberikan dampak positif terhadap kesehatan masyarakat. Selain itu, Pemerintah juga dapat melakukan pembatasan iklan makanan dan minuman tinggi gula pada masyarakat.

Dengan kesadaran dan tindakan pencegahan yang tepat, risiko ini dapat dikurangi. Mari mulai menerapkan gaya hidup sehat dan bijak dalam memilih makanan dan minuman. Kalau bukan dimulai dari kita, siapa lagi?

(Kemenkes RI, 2023)

Translate »
Skip to content