Perkuat Mutu dan Keselamatan Pasien, RSUD Bali Mandara Dorong Pimpinan Unit Jadi Penggerak Perubahan

DENPASAR — 24 Agustus 2026, Komitmen RSUD Bali Mandara dalam memperkuat mutu pelayanan dan keselamatan pasien terus dibangun melalui penguatan peran pimpinan di setiap lini pelayanan. Salah satunya melalui kegiatan “Optimalisasi Peran Pimpinan Unit dalam Peningkatan Mutu RSUD Bali Mandara” yang disampaikan oleh Wakil Direktur Pelayanan RSUD Bali Mandara, dr. Ketut Widiyasa, MPH, Senin (24/8), di hadapan jajaran manajemen serta para pimpinan unit yang terdiri atas kepala instalasi, ketua komite, ketua unit, dan kepala ruangan. Dalam kegiatan tersebut, dr. Ketut Widiyasa menekankan bahwa keberhasilan peningkatan mutu tidak hanya ditentukan oleh kebijakan di tingkat manajemen, tetapi sangat bergantung pada bagaimana standar dan sistem tersebut diterapkan secara konsisten di setiap unit pelayanan.

“Pimpinan unit bukan sekadar administrator. Pimpinan unit adalah pemilik proses di unitnya,” menjadi salah satu pesan utama yang disampaikan. Sebagai pemilik proses, pimpinan unit dituntut memahami layanan yang diberikan, mengenali risiko, memastikan regulasi berjalan, mengelola kompetensi staf, mengendalikan mutu dan keselamatan, mengoordinasikan pelayanan, serta memastikan setiap temuan ditindaklanjuti.

Menurut dr. Ketut Widiyasa, mutu harus menjadi bagian dari pekerjaan sehari-hari, bukan hanya menjadi perhatian ketika rumah sakit menghadapi evaluasi atau survei akreditasi. Karena itu, setiap pimpinan unit perlu memastikan bahwa apa yang tertulis dalam regulasi benar-benar tercermin dalam praktik pelayanan di lapangan. Dalam konteks tersebut, kesiapan mutu dibangun melalui kesinambungan antara regulasi, implementasi, bukti, data, dan perbaikan. Konsistensi antara dokumen dengan praktik menjadi penting karena kualitas pelayanan tidak hanya dilihat dari kelengkapan dokumen, tetapi juga dari apa yang benar-benar dilakukan oleh staf dalam memberikan pelayanan kepada pasien.

Penguatan peran pimpinan unit juga mencakup kemampuan membaca dan menggunakan data sebagai dasar pengambilan keputusan. Pimpinan unit diharapkan tidak hanya mengetahui angka capaian indikator, tetapi mampu memahami tren, mengidentifikasi kesenjangan, menemukan akar masalah, menentukan intervensi, serta mengevaluasi hasil perbaikan. Data mutu harus memiliki rekam jejak yang dapat ditelusuri sehingga setiap keputusan perbaikan memiliki dasar yang jelas.

Selain mutu, aspek keselamatan pasien menjadi bagian penting dari kepemimpinan unit. Para pimpinan unit didorong untuk membangun budaya keselamatan yang memungkinkan staf melaporkan masalah dan insiden, belajar dari kejadian, bekerja sebagai tim, serta melakukan perbaikan sistem. Pendekatan just culture juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang mendukung pembelajaran sekaligus tetap memastikan akuntabilitas.

Dalam pengelolaan risiko, pimpinan unit diharapkan mampu mengenali risiko yang terdapat dalam proses pelayanan, memahami penyebab dan tingkat risikonya, memastikan pengendalian berjalan, serta memantau efektivitas mitigasi. Risiko di tingkat unit juga perlu terhubung dengan program mutu dan keselamatan pasien sehingga pengelolaannya tidak berhenti sebagai dokumen, tetapi menghasilkan perubahan nyata dalam proses pelayanan.

Penguatan kepemimpinan tersebut semakin penting karena pimpinan unit merupakan pihak yang paling dekat dengan pelaksanaan pelayanan sehari-hari. Mereka berada pada posisi strategis untuk memastikan kompetensi staf sesuai dengan kewenangan yang diberikan, ketersediaan sumber daya mendukung pelayanan, prosedur dijalankan, serta masalah yang ditemukan segera mendapatkan tindak lanjut.

Melalui kegiatan ini, RSUD Bali Mandara mendorong seluruh pimpinan unit untuk membangun pola kepemimpinan yang lebih proaktif: hadir di lapangan, memahami proses pelayanan, mengenali risiko, menggunakan data, mendengarkan staf, dan memastikan setiap masalah menghasilkan perbaikan. Dengan penguatan tersebut, mutu tidak lagi dipandang sebagai tanggung jawab satu komite atau satu bidang tertentu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama yang dimulai dari setiap unit pelayanan.

Pada akhirnya, upaya peningkatan mutu dan keselamatan pasien bukan hanya tentang kesiapan menghadapi survei akreditasi. Lebih dari itu, kesiapan terbaik adalah ketika praktik pelayanan yang aman, bermutu, sesuai regulasi, terdokumentasi, terukur, dan terus diperbaiki telah menjadi budaya kerja sehari-hari di RSUD Bali Mandara.

Translate »
Skip to content